untitled

Satu pertanyaan saya yang saya rasa saya pun tidak membutuhkan jawabannya.
Seperti lagu Maliq n D’essential, ” Adakah ku sedikit di hatimu?”

Sebuah pertanyaan yang (tadinya) saya rasa begitu sederhana. Rendah hati. Pertanyaan tentang rasa saja. Itu pun tidak banyak. Adakah? Adakah? Adakah? Walau hanya sedikit saja. Walau hanya sekejap saja.

Tapi rupanya pertanyaan saya tidak sesederhana itu. Tidak serendah hati itu. Tidak se-tidak-ingin-memiliki itu. Pertanyaan saya hanya menjadi penegasan bahwa rasa yang saya rasa saya punya, masih hanyalah sebatas ketidaktulusan, pengharapan, keinginmemilikian.

Bahwa jika jawabannya iya. Dan pernah. Bahwa dalam ketidakmemilikian saya, saya hampir, atau bisa saja memiliki. Sehingga saya boleh berbangga kini. Karena ketidakmemilikian saya, sekarang, bukan akibat ketumpulan saya yang samasekali tidak mampu menggoreskan jejak di hati anda.

Bagaimana jika jawabannya adalah ada. Dulu, dan kini. Dan saya akan lebih serakah. Serakah akan rasa menang saya. Bahwa dalam ketidakmemilikian saya, anda dan sebuah tempat kecil dihati anda, akan ada saat saya datang dan memintanya.

Jika rasa saya benar adanya. Tak perlu saya mendendangkan lagu itu. Tak perlu saya menaruh nafsu untuk ingin tahu. Cukup diam. Menikmati rasa. Tanpa perlu ada tanya, tak perlu ingin bertanya. Tanpa ada kalah dan menang. Tanpa ada isi dan hampa. Karena dengan rasa, saya juaranya, seharusnya. Karena dengan rasa, sua tak perlu lagi ada. Karena dengan rasa, asa selalu rela.

Mungkin justru karena rasa itu maya. Sehingga tanya selalu membusukkan rasa yang berubah jadi tiada. Karena rasa itu maya, tanya tak terucap, karena takut akan jawab apa yang akan saya dengar.
Karena rasa itu maya, saya takut mendengar tidak. Bahwa apa yang saya rasa anda rasa, maya saja. Bukan nyata. Sehingga rasa takut saya, bahwa sadar saya akan saya yang begitu bodohnya dalam merasa.

Hingga munculnya sebenar tanya harus ada. Dan jawabnya lebih harus ada. Ada nyata dalam rasa saya? Bukan maya apa yang saya sebut rasa? Tanya-tanya yang semakin menghadirkan gulana saja.

Sudah saja. Tidak perlu ada tanya. Apalagi rasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s