Mendaki, mendaki, mendaki

Saya rindu mendaki. Berjalan kaki ke tempat tinggi. Bawa carrier ampe jalannya kayak nini-nini.
Kenapa mendaki? Karena saya gak sanggup lompat tinggi. Karena saya ingin melarikan diri. Dari apa?
Dari berdiam diri. Berdiam diri. Berdiam diri. Bengong sendiri.

Kaki saya bukan kaki pelari. Hati saya bukan hati penari. Suara saya bukan suara penyanyi.
Jadi saya bawa saja si kaki, mendaki, biar dia kerja, tapi gak lari. Saya tenangkan hati saya bersama sunyi, sepi, sendiri. Biar saya bisa teriakkan suara saya sebebasnya, di tebing tinggi.

Ah, saya benar-benar rindu mendaki. Bersama gerombolan sepi. Saya ingin indomie. Saya ingin duduk di samping api. Saya ingin tidur-tiduran di atas rumput yang saya rasa baunya wangi. Sambil melihat bintang, biar mereka malu, sampai berhenti menari.

Ah, saya ingin mendaki. Sekali ini. Ke tempat yang benar-benar tinggi.

Advertisements

2 thoughts on “Mendaki, mendaki, mendaki

  1. mbak… saya suka rima nya, isinya, post-nya yang satu ini
    ijin re-blog ya mbak, apa boleh?
    tetap saya sertakan alamat sumbernya…
    makasih mbak sebelumnya,,,,
    🙂

    salam kenal…
    lanakelana.tumblr.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s