Sanghyang Poek – Sanghyang Tikoro

This slideshow requires JavaScript.

Sabtu kemarin, saya dan seorang teman berjalan-jalan ke daerah Bandung Barat. Di dekat Saguling sana, ada gua purbakala, namanya Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro. Kalau diterjemahkan, Poek itu artinya gelap, dan tikoro itu artinya tenggorokan (atau kerongkongan ya? Entahlah.). Sanghyang sendiri dari bahasa Sansekerta (CMIIW), artinya dewa.

Kami memulai perjalanan dari Cisitu, belakang Dago, lanjut ke Stasiun Bandung. Saya sih pengennya jalan kaki ke Stasiun Bandung, kan enak jalan-jalan subuh-subuh, segeeerrr. Tapi berhubung teman saya gak mau (jauh, katanya) dan saya siap-siapnya kelamaan, hehe, jadinya kami ngangkot dari gerbang belakang ITB, kira-kira sekitar jam 5.40.
Ongkos angkot sampe stasiun, 2000 @orang perjalanan sekitar 15 menit. Kami naik KRD ekonomi, Bandung-Padalarang, muuuurah, cuman seribu doang :). Kereta enak kok, buat ukuran kami, dapat tempat duduk pula. Kereta dari Bandung ke Padalarang tampaknya tersedia sampai malam hari, kalau Padalarang-Bandung, ada sampai jam 19.45.

Sampai di Padalarang, sekitar jam 6.35. Dari stasiun, kami berjalan sebentar ke arah kanan, menuju pertigaan. Kalo mau sarapan, sarapan aja dulu disini, stasiunnya pas depan pasar. Di pertigaan, perjalanan dilanjutin naik angkot jurusan Rajamandala. Ongkosnya kami bayar 4000 (kalo kata bapak-bapak pinggir jalan, 3000-4000 ongkosnya, tapi ga tega kalo 3000, jauh soalnya), perjalanan sekitar 45-60 menit, lalu turun di perempatan Saguling.

Dari perempatan Saguling, kami jalan kaki. Jalannya relatif mulus, kanan kiri asri. Mantep banget kalo sesepedahan. Kami jalannya lumayan lama, kelamaan nongkrong di jalan sih :D. Kalo bingung di jalan,tanya orang aja, tanyain PLTA Saguling. Di tengah jalan, ada abang-abang bawa pick-up baik hati, nawarin ikut nebeng. Kami nebeng, sampai di pertigaan Cipanas. Dari situ, hasil tanya orang, kami ambil jalan kiri (kalo kanan ke Waduk Saguling), terusin jalan sampai di Pusat Listrik Tenaga Air Saguling. Di jalan, di sebelah kanan, ada beberapa jalan, yang di halangi pagar. Sampai di PLTA Saguling lapor dulu, ada pos satpam disitu, kasih lihat tanda pengenal juga.

Bapak-bapaknya (pak polisi Cimahi ama Satpam) geleng-geleng aja.

“Cuma berdua?”. “Cewek semua?”

Singkatnya mereka gak ngizinin kami ke Sanghyang Tikoro, karena airnya lagi deres. Dan juga gak ngizinin kami ke Sanghyang Poek, karena kami cuman berdua, dan katanya harus lewat hutan. Rombongan yang biasanya kesana, biasanya sudah mengantongi izin dari PLTA Saguling. “Liat-liat aja de, Sanghyang Tikoronya”.

Sanghyang Tikoro ama PLTA Saguling, jaraknya deket banget. Kalo kita jalan dari arah pertigaan Cipanas, tinggal kepleset dikit, nyampe deh. Di sebelah PLTA Saguling, ada tangga, jadi kita bisa lihat dari situ. Sebenernya gak ada jalan untuk turun ke bawah (ke pinggiran Sungai), tapi nyelip aja dari sela-sela tangga ;p.

Hayooo, yang pacaran jangan macem-macem, soalnya ada CCTV.

Sanghyang Tikoro, itu berupa gua gede banget, dan aliran air deras masuk ke dalam gua. Konon, dinamain Sanghyang Tikoro, karena air yang masuk (sebagian, atau semua ya?) gak keluar lagi, tapi masuk meresap lagi ke dalam tanah. Kayak diminum gitu deh. Konon juga, gua ini terbentuk akibat aliran sungai Citarum yang deres banget. Kalo menurut legenda Sangkuriang, Gua Sanghyang Tikoro ini adalah tempat Sangkuriang menjebol bendungan (sumbat yang dilempar katanya jadi Gunung Manglayang). Air sungai, mengingatkan saya pada bau belerang, yang biasa tercium di kawah gunung. Tapi bau ini, katanya akibat pencemaran sungai. Sedih yak ):

Saat kami kesana, gak ada orang lain. Sepi… Derasnya air yang masuk, ke gua besar ini, sebenernya sangat-sangat, hmmm, saya gak punya perbendaharaan kata buat ngegambarinnya. Seolah-olah aliran air yang masuk secara deras itu, ingin menarik saya kedalam sana. Mengingatkan saya sama segala yang maha-maha, heuheu.

Setelah cukup lama duduk-duduk. Kami ke atas, lalu tanya-tanya tempat ke bapak-bapak (aki-aki) yang lagi nyapu. Rupanya jalan ke arah kanan yang tertutup itu, (jalan yang tepat sebelum PLTA Saguling), jalah menuju Sanghyang Poek. Akhirnya kami kesana, sambil dagdigdug takut diteriakin satpam. Jalan menuju Sanghyang poek, berupa jalan setapak di pinggiran sungai. Jaraknya cukup dekat, mungkin hanya 10 menit jalan kaki.

Woooh, seneng banget, ketika kami akhirnya sampai di tempat yang dituju. Gua Sanghyang Poek ini adem sekali, dan poek. Lagi-lagi disini kami hanya berdua. Gua Sanghyang Poek ini seperti celah yang dibebani tebing tinggi. Beda dengan Sanghyang Tikoro, sungai yang mengalir di depan Sanghyang Poek, aliran nya tenang, dan tidak terlalu besar. Banyak batu-batuan besar, yang pasti bikin kamu pengin tidur-tiduran dan gak mau pulang. Berada disini, seolah Sanghyang Poek adalah tuan rumah yang ramah. Bayangkan kamu duduk di celah batu, di depan kamu sungai mengalir, gemericik air, suara hewan-hewan kecil lalu hutan di seberang sungai. Rammmaaah kan?

Tapi, orang harus terus melangkah kan? Senyaman apa pun, kami harus beranjak.

Mungkin, disebutnya pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s