Malam Badai di Puncak Papandayan

Menjelang Natal tahun 2008, saya, beserta 4 orang teman, total 3 cewe 2 cowo, nekad mendaki Gunung Papandayan. Waktu itu kami masih bego, dan semangat masih tinggi, setinggi puncak Papandayan, karena baru saja menyelesaikan Pendidikan Dasar beberapa bulan sebelumnya.

Naif banget. Waktu itu kami hanya berbekal: satu set misting, air minum 600 ml x 5, abu dan minyak tanah, indomie, baso sosis, telur, ponco. Perlengkapan pribadi? Sleeping bag, matras, sarung tangan, jaket, senter? Nihil. Tenda pun kami gak bawa.

Dengan modal semangat alumunium, serta mental tahan segala cuaca dan medan (?), kami pun berangkat ke terminal Caheum. Dari Caheum naek bus, jurusan Pameungpeuk kali yah (lupa), turun di pertigaan Cisurupan.

The Long Road

Pelajaran pertama yang kami dapatkan, “Jangan percaya deh, ama estimasti jarak dan waktu yang dikasih orang lokal!”.  Ceritanya, waktu kita nanyain ama penduduk jarak dari pertigaan ke gerbang Gunung Papandayan, bapak penduduk dengan yakinnya bilang gini, “Jalan aja dek, paling setengah jam, apalagi masih muda-muda, masih kuat.”

Catatan: Dari pertigaan, kita bisa carter mobil bak-bak terbuka.

Okeh, kami mau ngirit, kami jalan. Dan… setengah jam berlalu. Kayaknya masih jauh. Setengah jam berlalu lagi. Kayaknya masih jauh. Akhirnya kami nebeng truk pasir. Truknya sampai ke tujuan dia. Kami jalan lagi. Kami nebeng lagi pick-up sayuran. Turun lagi. Jalan kaki lagi. Beruntung, di tengah jalan, ada bapak-bapak baik hati bawa Kijang nawarin tebengan.

Aha! Asyik yak, tebengannya berubah ke arah makin gaya, truk pasir-pickup sayur-mobil pengangkut orang. Perjalanan  barusan, dengan tebeng sana-sini, manaaaa adddda cuman setengah jam??? Biarpun dikata penduduk asli jalannya cepet, secepet apa sih? Orang jalan cepet aja paling banter 8 km sejam, dan ini jalan, percaya deh ama saya, lebih-lebih-lebih dari 4 km.

Untungnya sepanjang jalan lumayan asyik kok :). Kanan kiri perkebunan macem-macem. Udara seger. Jalan sepi jadi bisa tidur-tiduran disitu *gakdianjurkansih. Treknya lumayan nanjak dikit, kayak jalan ke Lembang lewat Dago.

Di jalan menuju gerbang Papandayan

Nice view di kiri-kanan jalan

Kawah, Pondok Selada

Akhirnya, kami nyampe juga di gerbang Papandayan, yang sama sekali gak ada orangnya. Dari situ jalan lagi dikit, baru kami ketemu Pos/Kantor *lupa namanya* buat daftar dan perizinan mendaki, kalo gak salah inget sih, bayar 2000/orang.

Dari pos ke kawah, deket, kepleset juga nyampe. Kalo bawa keluarga, cocok maen kesini, soalnya effort nya (kalo cuman niat liat kawah) gak banyak, apalagi kalo bawa kendaraan pribadi. Kawah Papandayan, kalo dibandingkan dengan kawah-kawah di Tangkubanparahu, masih kurang dahsyat sih, lokasi kawahnya berupa hamparan batuan-batuan kecil berasap *bingungjelasinnya.

Dari kawah, kami lalu meneruskan perjalanan menuju Pondok Salada. Secara umum, treknya kebanyakan jalan setapak, dan cenderung datar. Gak ada namanya penunjuk jalan. Pake feelling aja, plus ngekor anak-anak muda yang kelihatannya mau kemping. Mereka gak percaya gitu kalo kita bilang mau nge-daki. Secara, anak-anak cuman bawa tas-tas kecil (yang saya haqul yaqin isinya baju ganti doang ama indomie), dan saya cuman bawa T-45 kempes, curian (baca:pinjaman) dari mako, hehehe.

Senyampenya di Pondok Salada, udah lumayan rame yang kemping. Pondok Salada emang mantap buat kemping, ada sedikit edelweisnya (waktu itu), ada mata air, tempatnya padang rumput nan lapang pula.

Gerbang "kosong" Papandayan

Kawah Papandayan

Perjalanan menuju Pondok Salada, seger 🙂

Jalan Terjal dan Berbatu

Berhubung tujuan akhir kami ke puncak, setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Sekali lagi cuman pake feelling, soalnya orang-orang disitu yang kami tanyain juga banyaknya gak tahu, dan mostly mereka emang hanya bertujuan kemping di Pondok Salada. Dari Pondok Salada, depan kami terlihat bukit, dengan sebuah “jalan” terlihat dari balik rimbun edelweis. Ya udah, ikutin situ deh. Jalannya… wow! Lumayan terjal juga. Sebenernya kami sih bingung, itu jalan, apa bekas sungai, atau apa gitu ya. Jalannya kita kayak ngedaki batu-batu gitu, dan terkadang ada spot-spot, yang meskipun masih bisa dilalui, terlihat cukup absurd buat bisa disebut jalan.

Setelah melalui tebing terjal berbatu… sampai juga di satu tempat yang kami percaya namanya adalah Tegal Alun-alun. Tempatnya unik, tanahnya berwarna keabuan lunak (atau mungkin itu memang abu?) dan banyak pepohonan kering seperti, atau mungkin memang, terbakar. Disana juga banyak pohon edelwiess, lebih banyak dibandingkan di Pondok Salada. Di gunung-gunung lain (yang kelak) yang saya daki, belum lihat ada yang tempatnya kayak gitu.

Jalan terjal berbatu-batu

Tegal Alun-alun

Dari situ, kami masih bingung, puncaknya yang mana sih? Masih ikut feelling, kami lalu mengikuti jalan setapak yang kelihatannya seperti itu (baca: kami gak yakin itu jalan apa bukan). Setelah ngerasa mentok, dan udah ngerasa di titik paling tinggi di sekitar situ, kami berhenti dan membuat tenda, eh bivak, dari… ponco. Percayalah, kami bukan pembuat bivak yang jago.

Akhirnya, waktu leha-leha dan hepi-hepi pun tiba. Kami bikin api dengan modal kaleng, abu gosok dan minyak tanah, serta sedikit kayu kering, soalnya kayu/ranting yang kami lihat sekitar situ pada basah. Credit to Mr. J*k* L****o, seniro,  yang ngasih tahu tentang bikin api pake abu dan minyak. Indomie time…. 🙂

Malam badai itu…

Waktu indah berbahagia dengan sosis dan indomie pun berlalu, berhubung kami nyampe puncak pada waktu deket-deket  maghrib, gak lama kemudian hari pun menggelap. Dan hujan pun turun, literally. Masa hepi-hepi kami pun usailah sudah. Setelah shalat berjamaah, kami berteduh, dan mencoba untuk tidur, dibawah bivak yang sama sekali tidak dapat diandalkan. Ponconya kan cuman bawa 3, 1 buat alas, 2 buat bivak.

Di luar gerimis. Di dalam bivak bocor, basah. Kami kehujanan, dan saya hypothermia, hampir. Saya gak bawa jaket, hanya kaos, dan kemeja tipis bukan flanel. Masih untung, ngill, ternyata bawa sleeping bag, yang akhirnya direlakan buat jadi selimut kami berlima. Yang lain kedinginan, tapi tampaknya tidak seheboh saya, entah kenapa. Padahal lemak saya, jauh lebih tebal dibanding Ngill, Mamak, Vietkong, sebelas-duabelas ama Ibu Peri. Jadilah saya rusuh, pake entah kayu putih, atau entah apalah itu, pinjam kaos lebih nya Mamak. Apa aja deh biar bisa lebih anget. Credit to Ibu Peri, yang paling repot ngurusin saya.

Terimakasih Ya Allah, menganugerahkan kami akal, yang dapat digunakan untuk berlogika, yang dengan mubazirnya kami sia-siakan saat itu. Dengan cerdasnya, kami memilih tempat berbivak, di tempat lapang tak terlindungi, di puncak gunung. Angin pun, gemar menyapa. Kenceng. Kalo udah kedengeran bunyi gemerisik, beuh, saya berdoa aja deh, karena itu suara angin mau lewat.

Dingin. Dingin banget.

Lebih dingin dari di celup malam-malam di kolam Cikole, atau dicelup menjelang shubuh di hutan Panaruban.

Sepanjang malam kami cuman bisa berdoa. Saya gak tahu persis apa yang dirasain teman-teman yang lain. Saya, yang jelas, hanya berdoa supaya pagi disegerakan. Rasanya, itu momen paling inget mati banget dah, haha. Momen tobat.

Pagi datang.

Selamat pagi mentari :). Lega. Kami masih hidup. Dan bersenang hati. Pagi tertutup kabut.

Setelah shalat shubuh, kami masak, masih dengan peralatan dan menu yang sama. Foto-foto. Menikmati indahnya dan segarnya pagi di puncak Papandayan.

Setelah kabut turun, kami ikut turun juga. Ke Pondok Salada, ke kawah, lalu jajan di warung dekat lokasi kawah. Ada yang jual cindera-mata juga rupanya disitu. Udah cape, males jalan, kami akhirnya mencarter pick-up untuk turun ke pertigaan Cisurupan.

Vietkong yang tampangnya gak rela mie nya diminta Mamak

Puncak Gunung (Cikuray?), dari puncak gunung Papandayan

The After Effect

Pulang ke Bandung. Upload foto di facebook. Lumayan, menuai banyak “pujian” dari senior mengenai kekonyolan kami berlima. Saya rasa mereka bersyukur, karena kami masih hidup 🙂 (maaf lebay).

Papandayan, bisa dibilang gunung pertama yang kami daki. Pengalaman pertama ini, bikin effect yang beda sama setiap anggota rombongan. Ada yang kapok :), dan ada yang sangat ketagihan :).

Pelajaran yang kami dapat, tentu banyak sekali…

Prepare for the worst, Pray for the best. Gunung mana pun itu.

Advertisements

6 thoughts on “Malam Badai di Puncak Papandayan

  1. Pingback: Ketika kegelapan, kesunyian, kelelahan menyelimuti (jalan menuju) Mandalawangi | jumperparadiso

  2. Pingback: Ceremai, Menara Pertama Saya | jumperparadiso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s