Ketika kegelapan, kesunyian, kelelahan menyelimuti (jalan menuju) Mandalawangi

the inspirator

Puisi ini saya baca, 6 tahun yang lalu, dari potongan-potongan Intisari tua.

Mandalawangi-Pangrango, Soe Hok Gie

Sendja ini,ketika matahari turun
Ke dalam djurang2 mu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu,dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbitjara
Tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku tjinta padamu,Pangrango jang  dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian
Menghadapi jang tanda tanja
Tanpa kita bisa mengerti,tanpa kita bisa menawar
Terimalah,dan hadapilah”

Dan diantara ransel-ransel kosong
dan api unggun jang membara
aku terima itu semua
melampui batas-batas hutanmu,
melampui batas-batas djurangmu

aku tjinta padamu Pangrango
Karena itu aku cinta pada keberanian hidup

Akhirnya, setelah galau-galau lama gak naik gunung, saya dan 2 teman kosan, ngerencanain ke Pangrango, September 2011 kemarin. Aheyyy (:

the administration

Administrasi pendakian ke Gunung Pangrango bisa dibilang lumayan ribet, dibanding gunung-gunung lain di Jawa Barat yang notabene, daki ya daki aja. Mungkin karena Pangrango masih sepaket sama Gunung Gede, sama-sama anak asuh Taman Nasional Gede Pangrango, yang kayaknya merupakan salah satu gunung yang paling banyak didaki di Indonesia.

Untuk yang mau mendaki Gunung Pangrango, harus booking dulu di http://www.booking.gedepangrango.org/ sekalian buat ngecek kuota pendaki masih tersedia atau belum. Disitu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan formulir yang harus diisi. Idealnya, kita datang kesono tinggal nunjukkin dokumen, tanpa harus repot dengan isi-mengisi formulir.

Selain itu, di situs tersebut juga udah ada list barang bawaan yang gak boleh dibawa, serta keharusan buat menggunakan guide atau kerennya Petugas Forum Interpreter Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Yang gak mau pake pendamping, harus merupakan Pendaki/Pecinta Alam pribadi/institusi yang udah pernah dapet pelatihan SAR, survival, keslap dll. Berhubung kita bukan pecinta alam, dan kita bokek gak sanggup bayar guide, akhirnya kita pake surat pengantar dari menwa yang nyatain kalo kita udah pernah dapet pelatihan-pelatihan yang disyaratkan.

Nay, nay, nay, nyatanya, pas kami datang kesana, kami disuruh lagi buat isi formulir. Petugasnya malah sama-sekali gak nanyain soal pendaftaran online. Waktu kami bilang kalo udah isi formulir di online, petugas nya cuman bilang kalo jaringan nya lagi mati.

Emang sering mati ya pak jaringannya?

“Wah, mati terus dek.

Eaaa.. Artinya, booking gak booking, online gak online, kagak pengaruh.

Surat yang pengantar yang kami bawa juga gak ditanyain tuh. Alias siapa aja boleh naik tanpa guide kali yaaa 😛

Ohya, terlepas dari segudang list tentang barang-barang yang gak boleh dibawa, hmmm, petugasnya gak ngecek sama sekali tuh. Jadi kalo ada yang mau bawa sabun biar bisa mencemari lingkungan, bisaaa, yang mau bawa miras biar bisa mabok, bisaaa. Jadi balik-balik lagi ke kesadaran dan nurani masing-masing aja. Kemarin sih kami, jujur, bawa golok. Berhubung kita cuma cewek bertiga, kami bawa golok sekedar buat jaga diri aja kalo kenapa-kenapa di jalan.

the transportation

Perjalanan di mulai dari simpang Dago, kami naek Damri Dago-Leuwipanjang, menuju terminal Leuwipanjang dengan ongkos 2000,- (+- 40 menit). Karena kami berniat untuk mendaki dari Cibodas, dari Leuwipanjang (seharusnya) kami lanjut naik bis Bandung-Merak, lalu trus turun di pertigaan Cibodas (+- 3 jam). Dari situ bisa lanjut naik angkot yang ngetem ke Kantor TN Gede Pangrango, dengan ongkos 3000,- (+- 5 menit)

the -doing over again-

Rute menuju puncak Pangrango, hampir sama dengan rute menuju puncak Gunung Gede. Nostalgia deh (:

Dari pos pertama, TN Gn Gede-Pangrango, perjalanan dilanjutkan ke Kandang Badak. Perjalanannya ini yang seru (:. Sebelum sampai di Kandang Badak, kita bakal melewati Telaga Biru (sejujurnya saya bingung birunya dimana) tidak jauh dari pos pertama. Lalu, setelah 1-2 jam perjalanan, pendaki bisa main-main dulu ke air terjun Cibeureum yang berlokasi sekitar 15 menit dari jalur utama.

Selain itu, kami juga melewati mata air panas… Wow, serem-serem gimana gitu hoho. Batu-batuannya licin, tapi untungnya disediain tali buat pegangan.

Kami sampai di Kandang Badak setelah maghrib. Tadinya niatnya mau nge-camp di Kandang Badak, tapi jiwa muda berkata lain. Setelah debat kecil-kecilan, akhirnya kami bertiga memutuskan buat terus melanjutkan perjalanan.

the heavy, the lonely, and the hesitancy

Dari Kandang Badak, kami melanjutkan perjalanan ke arah kanan (kalo ke kiri ke Gunung Gede). Unfortunately, entah kenapa, yang mendaki Gunung Pangrango jauh lebih sedikit dibanding Gunung Gede.

Dan kami bertiga, mendaki sendirian di tengah malam.

Karena gelap, seringkali kami gak yakin, jalan yang kami lalui jalur yang benar atau bukan. Makanya, setiap kali lihat sampah, bukannya marah-marah seperti biasa, tapi kami bersyukur habis-habisan. Seenggaknya, jalur yang kami pilih pernah terjamah manusia.

Sepanjang perjalanan, kami yang sepanjang siang hari berisik, jadi kalem. Jujur, terasa sedikit spooky. Suara yang terdengar udah bukan suara kami lagi, tapi suara khas hutan, yang… yah tidak perlu direnungkan.

Setengah jalan, rasanya saya udah mulai tepar. Untungnya air yang saya bawa, udah tinggal sebotol. Beban yang nyebelin, tinggal si tenda aja. Bukan bebannya, tapi yang bikin nyebelin adalah karena si carrier jadi jangkung, sehingga sering saya harus merunduk, berdiri, merunduk, berdiri. Serasa squat-jump, olahraga paling saya benci, apalagi squat-jump pake beban.

After a storm, is a golden sky.

Akhirnya kami sampai di punggungan gunung. Subhanallah, sumpah indah banget. Bintang-bintang seolah mendekat, dekat banget. Emang kalo naek gunung selalu ada kompensasi dari rasa lelah (:

Setelah sampai di punggungan, sebenarnya rada-rada hopeless lagi, karena kami bingung jalannya kemana, soalnya udah datar-datar aja. Pas akhirnya kami nemu tugu, holaaaa, jackpot sekali rasanya (: Akhirnya kami sampai di puncak dengan selamat

Tadinya sempet kepikiran buat turun, dan kemping di Lembah Mandalawangi, tapi daripada kami nyasar… lebih baik nge-camp di puncak aja. Tempatnya cukup terlindungi, dan sepertinya kami tidak akan diserang badai kayak di Papandayan, hehe. Dan lagi, di puncak rupanya udah ada yang ngecamp duluan.

Setelah bikin tenda, kami makan-makannnn. Bakar-bakar sosis, ama makan makanan wajib di gunung, indomie (:

Waaaa, saya suka banget suasana malam itu. We were so happy (: (: (:

 

soe hok gie’s ashes

Pagi menjelang. Kerusuhan-kerusuhan kecil di tenda mencari bahan makanan setelah shalat shubuh seadanya. Sosis bakar. Mie rebus. Diam-diam saya menyelinap sendiri ke bawah, menuntaskan penasaran, dan kerinduan.

Mandalawangi. Yang sepi. Disini abu Soe hok gie ditaburkan, di tempat kesayangannya oleh rekan-rekannya di Mapala UI. Saya membayangkan, dan mengagumi, bunga-bunga edelwis yang mungkin tumbuh, berpupukan oleh Soe Hok Gie.

Kembali ke atas. Pesta sosis dan mie rebus.

Persiapan pulang…

 

the sign, the bee, and the navy

Di perjalanan pulang, kebetulan saya jalan didepan, saya nemuin percabangan jalan setapak yang dikasih potongan semak-semak yang tampaknya sengaja ditaruh disitu.

Logika saya berkata, mi jangan lewat situ.

Ingatan saya bilang, ah kemaren juga lewat situ.

Karena kaki saya berjalan melibihi kecepatan logika saya, cuek aja saya ngeloyor lewat situ. Dan oh-uh, rupanya disitu ada lebah-lebah marah.

Eh, ada lebah (sambil berenti jalan)!

Udah jalan aja (temen: gak denger, dan ngomongnya sambil dorong)

Seekor bintang terbang, dan mendarat cepat, dengan pantat, di jari kelingking kanan saya yang bantat. Subhanallah, rela dia ya, mengorbankan isi perut dan nyawanya buat mempertahankan diri.

Dan saya, refleks saya hanya bisa teriak aja. Wow. Sensasi disengat lebah itu segitunya ya. Yang ditusuk jari, keleyengannya ampe ke kepalanya. Sepanjang jalan rasanya gak karuan ): Dan saya hanya bisa minta maaf dalam hati, karena dulu pernah ngetawain 3 temen yang disengat lebah di Panaruban. Karma.

Di jalan, kami bertemu korban-korban lebah yang lain, yang meringis, dan minta obat. Untungnya, rupanya Angkatan Laut lagi bikin acara, dan ada semacam tonkesnya gitu. Beberapa “korban” minta diobatin disitu.

Setelah di bersihin pake alkohol, akhirnya kami ngeloyor pergi.

Sesuatu banget di sengat lebah. Sensasinya, tahan berlama-lama. Hanya satu luka kecil, di jari yang paling mungil.

the… going home, eh?

Kami pulang.

Dan lalu, saya membaca post ini sendirian, sambil galau pengen pergi ke hutan…. aa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s