Berdoalah untuk Kebenaran, karena di situ, Cinta akan di Temukan

Munir (alm), aktivis HAM

“Kawin itu bukan cita-cita, melainkan sesuatu yang datang sendiri dan nggak bisa dihindari. Kawin datang ketika cinta dan kontraktual untuk bersama ditemukan. Cinta dan perkawinan itu bukan soal fisik, melainkan kebenaran dalam kejujuran menemukan kesesuaian. Ok, jangan berdoa untuk dapat jodoh, tapi berdoalah untuk kebenaran. Karena di situ, cinta akan ditemukan”

Saya gak galau sih. Enggak, enggak galau. Tidak risau. Tidak gundah gulana.

Cumaannn.. seminggu terakhir ini, topik yang beredar di sekitar saya, nikah, nikah dan nikah.

Kemaren seorang temen nanya,

“Kalo anak I** banyaknya nikah ama anak I** juga ya?”

Atau seorang dosen yang mewajibkan mahasiswa udah harus punya PW (pendamping wisuda) saat mau sidang,

“Kalo gak digituin, anak I** itu susah dapet jodohnya. Maunya sama anak I** lagi, kalo gak sama lulusan luar.”

Mungkin terlalu dini, dan sok tahu banget saya nulis topik beginian.. tapi gatel juga hehehe. Saya suka dengan kata-kata Munir, tentang kebenaran dalam kejujuran menemukan kesesuaian. Bahwa dalam kebenaran, cinta akan ditemukan.

Buat perempuan, faktor “kesekufuan” mungkin lebih penting dibandingkan laki-laki. Banyak temen cowok saya, yang nikah dengan cewek yang gak sekampus, tapi so far, teman cewek saya yang udah nikah, kebanyakan nikahnya ama yang sekampus juga. Hmmm, banyak juga yang belum menikah, entah karena faktor terlalu selektif, ataupun memang belum bertemu jodohnya.

Seorang teman, bukan sekampus saya, jelas-jelas mematok standar cukup tinggi, untuk calon suaminya. Harus berpendidikan, tampan, sholeh dan mapan.

Seorang teman yang lain lagi, lulusan S2, mematok calon suaminya memiliki pendidikan yang setara.

Ada lagi seorang teman yang dicap pemilih, dan dianggap maunya ama anak I** aja. Padahal selama ini, dia hanya mensyaratkan satu syarat, shaleh, dan jstru keluarganya yang seringkali menampik lamaran yang datang.

Sementara sebagian teman-teman yang lain. Justru cukup takut faktor kesukufuan ini, malah memberatkan mereka dalam mendapatkan jodoh. Cewek oke-oke aja, kalo cowoknya berada pada suatu kondisi/status tertentu yang menurut masyarakat lebih rendah. Tapi, cowoknya justru banyak yang minder (: (: (:

Saya gak tahu persis arti sekufu itu apa. Yang jelas kata-kata ini cukup sering digunakan, tampaknya, untuk menampik sebuah lamaran. Memang sih dengan “kesekufuan” tadi, mungkin akan lebih mudah menyatukan dua kutub. Tapi… tapi… tapi…

Sudah cukup tepatkah pertimbangan kita saat menimbang sebuah “kesukufuan”?

Apakah menimbang kesukufuan ini, semudah menghitung aljabar?

Sama-sama shaleh, sama-sama S1, sama-sama cakep, sama-sama I**, sama-sama kaya?

Atau malah kita salah menilai, kita menilai diri kita cakep dan pintar, sedangkan sebenarnya…

Kemarin, seorang teman saya menikah, dia lulusan S1, dan suaminya lulusan SMA. Dia bilang,

“Kadangkala, jodoh diberatkan, akibat kesombongan..”

(Tepuk jidat) Maaasuk akal. Mungkin kesombongan menutupi kebenaran akan cela pribadi, dan kekaguman akan kelebihan si doi, hehe.

Jadi, mari berdoa saja. Untuk kebenaran, untuk kejujuran mencari kesesuaian. Untuk menemukan cinta (:

Dan sekali lagi, saya gak galau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s