Ladang Cinta dan Doa

Ada satu hal, yang mungkin terlambat saya sadari. Bahwa beberapa hari ini, saya seneng benerrr. Pulang ke rumah selalu di atas jam 9 malem. Setelah urusan perut dan jidat yang tertunda, anehnya masih tersisa semangat untuk ngoprek laptop, sekedar bikin-bikin jargon, publikasi atau apalah yang nyambung sama ladang ini, tanpa diminta. Terlambat saya sadari, jika saya begitu semangat mengerjakannya, walau akhirnya baru bisa tidur dini hari.

Too much love, too much prayer, too much smile, here.

Cinta mereka memang tidak langsung ditujukan kepada saya. Gakpapa, biar saya seperti kabel, atau mungkin seperti muka terbasuh air. Airnya jatuh terus masuk tanah lagi, tapi kesejukannya masih kerasa di muka.

Kesejukkan yang hanya dapat diberikan oleh pemilik mata yang enak dipandang. Mata yang enak dipandang. Seperti yang Ahmad Tohari bilang.

Layaknya Adenita, dan Epicentrumnya, saya juga ingin melakukan apa yang saya cinta. Berkeringat, tapi tidak lelah, yang selama ini saya tidak tahu apa, selain jalan kaki dan mendaki.

Dan sekarang, saat tarikan untuk berladang disini begitu kuat, wahai mimpi, sudahkah saya dapat berhenti mencari?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s