Mereka Hanya Sangat-sangat Mencintai Nabinya, Itu Saja.

Muslim dari Ciamis sampe Prancis dibuat meringis oleh film Innocence of Muslims nya Sam Bacile (konon).Seruan unjuk rasa, hingga fatwa mati. Korban jatuh disana-sini. Dan ini bukan pertama kali.

Saya tidak hendak membela tindakan-tindakan anarkis* tidak tepat sasaran yang terjadi di berbagai belahan bumi. Saya hanya mau bilang, mereka hanya sangat-sangat mencintai Nabinya, itu saja.

Tadi sore saya menemukan sebuah tulisan di situs theonion.com, situs penyebar hoax, dengan judul “No one murdered because of this picture”. Di cerita bohongan itu, ada sebuah gambar yang melecehkan tokoh penting berbagai agama, mulai dari Hindhu, Buddha, Yahudi dan Nasrani.

Though some members of the Jewish, Christian, Hindu, and Buddhist faiths were reportedly offended by the image, sources confirmed that upon seeing it, they simply shook their heads, rolled their eyes, and continued on with their day.

Itu memang hanya cerita bohong. Sekaligus sindiran, mungkin, jika saya tidak kegeeran. Okelah, di masa kebebasan berekspresi ini, berbagai agama seringkali menjadi sasaran caci-maki, dan mungkin protes yang terjadi tidak seheboh bila Rasulullah (semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat serta salam kepadanya) yang menjadi korban. Dan mereka menjadikan hal ini sebagai sebuah pembenaran atas kebebasan media. Toh, nyang laen dihina nyante-nyante aje, kenape nyang Islam ampe rese? Bukan, bukan saya mau menuduh atau meragukan kecintaan mereka pada tokoh-tokoh sucinya,

Sekali lagi saya hanya ingin bilang, mereka hanya sangat-sangat mencintai Nabinya, itu saja.

Nabi yang begitu dicintai. Hingga seorang pedagang minyak wangi rela menunggu di depan rumahnya setiap pagi dan sore, hanya untuk melihat wajahnya. Hingga Khubaib lebih rela dicincang daripada Nabinya tertusuk duri. Hingga Bilal tak sanggup lagi mengumandangkan adzan karena kalimat asyhaduanna muhammadan rasulullah selalu terhenti oleh isak tangis setelah kepergiannya. Hingga seorang pengemis Yahudi buta tersentak dalam tangisan kala mengetahui tangan lembut yang memberinya makan setiap pagi telah tiada. Hingga penduduk Madinah tenggelam dalam duka ditinggalkan Nabinya…

Nabi yang di akhir hayatnya masih mengingat umatnya dalam  kata-kata terakhirnya, Umatku.. umatku.. umatku…

Mereka hanya sangat-sangat mencintai Nabinya, itu saja. Tanya, kenapa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s