0

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Meutia Fauziah (Republika, 3 Februari 2013)

Tanah Keramat ilustrasi Rendra Purnama

KAMPUNG Sedap Malam yang terkenal dengan bebunga merimbun dengan harum memuaikan itu sedang dilanda musibah. Kampung itu tak lagi sedap dihirup. Harum bunga yang tumbuh liar di segala penjuru kampung itu kalah dengan bebauan yang belakangan timbul tenggelam menggerayangi hari-hari dan mimpi. Bau darah dan daging busuk sayup-sayup beterbangan terbawa angin ke utara, selatan, ke segala penjuru ke mana angin pergi. Ketika udara menjadi lengang, angin tak datang, bau itu hilang. Tapi cuma sekejap. Dan udara busuk kembali membentangkan tabirnya.

View original post 1,558 more words

Aside
0

Bandung kelabu.

Mungkin bulan malu, atau bintang sedang meragu.

Seperti ini yang menunggu.

Setelah berminggu-minggu itu mengganggu.

Tapi setelah langit tetap menghembuskan abu.

Ini pun menyerah pada sendu.

Hingga itu berlalu.

1

Putri Abu-abu (cover)

Catatan: Kisah ini diadaptasi secara ngasal dan bebas sebebasnya dari http://www.facebook.com/notes/vicka-farah-diba/putri-abu-abu/10150550604992089

Kesesuaian cerita dengan kehidupan nyata kemungkinan disengaja.

Kemelanturan mungkin sengaja gak sengaja

———————————————————————————————

 

“Namun terlambat, hampir semua gelas gelas telah dipecahkan putri sehingga sang penyihir yang hampir musnah itupun lenyap ke dalam cermin sambil membawa serta jiwa bahagia putri dan mengutuk sang putri pelangi menjadi putri abu abu yang akan selalu kesepian serta menebarkan kesedihan dimana saja ia berada sampai kutukan dapat dihapuskan”

 

Saat Pangeran Brengsek pergi, dia menyumpah-nyumpah bahwa segala hal yang jelek akan terjadi pada Putri Abu. Continue reading