Bintang-bintang Jatuh di Langit Sindoro

Three people enjoy the summer sky over the Del...

Three people enjoy the summer sky over the Delaware river, NJ, USA during the Perseid meteor shower in August, 2006.The picture is probably a photomontage. (Photo credit: Wikipedia)

Perseid meteor shower in Austin Texas.

Perseid meteor shower in Austin Texas. (Photo credit: Wikipedia)

Malam itu malam yang sudah lama saya tunggu. Mendaki bersama gerombolan sepi. Duduk di samping api. Tidur-tiduran di atas rumput yang baunya wangi. Menatapi bintang yang tak mau berhenti menari.

Malam itu dingin. Merapatkan badan sambil menatap langit setelah menyeruput susu jahe, kehangatan sederhana yang menyenangkan. Rasi-rasi bintang terasa begitu mendekat, memberikan kekuatan cadangan untuk melanjutkan perjalanan beberapa saat lagi.

Ibu saya dulu pernah bercerita, bahwa bintang mungil yang berkerjap-kerjap itu sesungguhnya jauh lebih besar di bandingkan bulan. Jaraknya yang jauh menyebabkan mereka terlihat sangat-sangat kecil. Waktu kecil, memandangi bintang akan membuat saya sedikit sedih. Sedih, karena mereka begitu indah, dan membuat saya ingin terbang ke atas langit, mendekat pada bintang-bintang. Sedih, karena saya tahu mereka begitu jauh, berada pada jarak yang mustahil bisa saya tempuh.

Setelah besar (literally), mendaki, memberikan kesempatan pada saya untuk sedikit lebih dekat pada bintang-bintang saat mendaki di perjalanan malam panjang yang melelahkan. Dan saya sekarang sudah cukup puas dengan hanya memandangi mereka, tanpa harus bermimpi menerbangkan roket, yang hanya akan terbakar jika dibawa mendekati bintang-bintang.

Seperti malam itu. Gugusan bintang bersinar mengalahkan pemandangan kerlip lampu permukiman Temanggung di kaki Sumbing. Saya dapat melihat bintang raksasa Betelgeusse (yang bertahun-tahun saya jadikan nama email sewaktu masih alay) di tengah sabuk Orion, Sang Pemburu. Saya dapat melihat bintang titisan animagus Godfathernya Harry, Sirius.

Namun, rupanya malam itu itu, langit berkenan memberikan cerita lebih pada saya. Kelebatan putih, seperti kapur yang dicoretkan di papan tulis hitam lalu terhapus lagi, silih berganti mewarnai langit di sela gugusan bintang. Perlu beberapa waktu bagi saya untuk berpikir hingga akhirnya berteriak cempreng, BINTANG JATUHHHH!

Ya, bintang jatuh! Fenomena alam yang seumur-umur hanya malam itu saja saya saksikan. Mimpi aja enggak bisa lihat bintang jatuh, kirain cuman di serial Meteor Garden. Dengan cupunya, saya berteriak setiap bintang jatuh meluncur. BINTANG JATUH, ITU, DISITU, BINTANG JATUH LAGI… WAH PANJANG BANGET!!! Dengan nada norak segirang-girangnya yang pastilah bikin rombongan lain sebel, haha. Bahkan bintang-bintang di atas sana pasti malu kalah bersaing dengan mata saya, yang berkilau-kilau saking bahagianya hehe.

Saya kemudian teringat sebuah post yang pernah saya baca beberapa waktu lalu, tentang bintang jatuh di bulan Agustus. Bahkan sempat saya merencanakan pendakian di tanggal tersebut, tapi lupaaa, ahaha dasar. Beruntung diajak teman mendaki di tanggal tersebut, superdupervery hokiiiii! 🙂

Rupanya bintang jatuh yang saya amati adalah hujan meteor Perseid, yang memang mencapai puncaknya di tanggal 12-13 Agustus, yang konon merupakan meteor shower terbaik untuk diamati di tahun ini. Subhanallah… we were sooo lucky :)! Sayangnya keindahan langit malam itu tentu saja tidak bisa saya abadikan dengan kamera poket yang saya bawa, karena sudah pasti gak bakalan kelihatan apa-apa. Cukup dengan diabadikan saja di hati saya :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s