Ceremai, Menara Pertama Saya

Sebenarnya saya sudah malas sekali menulis tentang Ceremai. Udah 4 taon sih haha. Pastinya hampir gak ada informasi bermanfaat yang bisa saya tulis, karena hampir semuanya udah lupa. Tapi membaca postingan di sebuah blog tentang menulis, bikin saya ingin menulis lagi. Ceremai, salah satu gunung yang paling berkesan buat saya. Kalau suatu saat saya pikun, gak rela saya ngelupain kenangan yang satu ini, lebaybro, hahaha.

Ceritanya dulu, 4 taunan yang lalu (lebihhhh), saya masih level kacung (baca:siswa) yang baru aja menyelesaikan pendidikan biar boleh jadi perwira di Yon 1. Ngiri banget dulu itu, kalo ngelihat seniro-seniro naik gunung kemana-mana. Motornya dulu, Pak Ditya, TM’05 dan Bang Nainggolan EL’04. Mereka gak pernah ngajak-ngajak karena dibilangnya itu kita masih siswa Senyum sedih.

Karena gak pernah diajak senior itulah, makanya kesuperbegoan terjadi di gunung Papandayan (okeh, ini sih kami aja yang bego gak prepare dan nanya-nanya haha). Selepas naik gunung Papandayan, beberapa bulan setelahnya, saya ama ibu peri (Sunarni FKK’07) diajakin naik gunung ke Ceremai. Whoooa, okeh ini lebay, tapi jujur waktu itu senengnya luarbiasa, karena baru waktu itu doang pertamanya kita diajakin. Karena emang masih awam banget soal pergunungan, rasanya waktu itu Ceremai itu gunung paling keren sedunia. Gunung dengan tinggi 3000an, plus tertinggi di Jawa Barat. Trus katanya trek nya berat gitu, heu…

Mr. Kenny Enrich dan Ms. Sunarni Riningsih, :P

Masih inget saat packing di mako, waktu itu kita (juniro) bawa air 1,5 liter dua biji. Trus datang seorang super senior yang langsung nanyain berapa aqua yang kita bawa, trus langsung disuruh bawa satu aja, sisanya dibawain ama senior lain. Haha, enak sebenernya saat cewek di istimewakan kayak gini, kalo sekarang sih, disuruh angkut-angkut sendiri aja hiks hiks.

2671_1114777711705_5063224_n

2671_1114778391722_1357721_n

Gambaran Sebagian Besar Trek Ceremai

Turuuuuun

Kaya Kawah Putih dikit yak, hehe

Pendakian dipilih lewat jalur Apuy, di Maja, yang konon katanya merupakan jalur yang relatif mudah dari tiga jalur yang ada, apalagi dibandingin sama Linggarjati yang katanya bisa bikin turun mesin hehe. Kita naik Elf yang lewat Maja dari Cicaheum, lalu dilanjut carter angkot ke tempat perizinan mendaki. Perizinannya sama sekali gak sulit kayaknya, kalo gak salah palingan cuman KTP, dan entry fee yang dibawah 5ribu. Jalur Apuy mayoritas nembus hutan gitu, dengan jalur yang udah cukup jelas (setapak) kecuali di percabangan tertentu. Kami mulai mendaki selepas ashar dan berhenti selepas isya, mungkin jam 8-9an. Saya seneng sih ngedaki malam-malam. Adem, hehe. Seniro-senior, pada kuat banget, saya sih keteteran. Tapi karena takut gak diajak lagi, dipaksa-paksain, dikuat-kuatin, pantang minta istirahat duluan, untung seniro nya sedikit pengertian Senyum dengan lidah terjulur. Saya udah lupa nge-camp dimana, yang jelas besok paginya capcus, ngejer sunrise, yang gagal dapet> berangkatnya aja jam 5 lebih kayaknya, sampenya jam 7-8an. Kalo ditotal sekitar 8 jam an mendaki. Bonusnya dikitttt, nanjak terus Senyum.

2671_1114785591902_128130_n

Oh ya, kami mendaki berenam, saya, Sunarni FKK’07, dan seniro-seniro ek’41 Novel GD’06, Suryadi TG’06, Kenny Enrich IF’06 dan Nasri MS’06.

Pendakian yang menyenangkan sedikit banyak dipengaruhi oleh teman mendaki yang menyenangkan. Selain itu, enaknya ngedaki bareng senior, yang notabene di Mako mereka termasuk orang-orang yang pegang operasi, dan juga logistik, semua hal dipersiapkan sebaik-baiknya. Packing bareng-bareng sehingga beban terbagi dan terdeteksi, hehe. Mendaki bersama mereka, bahkan sampai saat ini, merupakan pendakian dimana saya ngerasa paling aman. Sangat aman. Enggak tahu kenapa, mungkin karena saya percaya banget ama mereka.

Ceremai, adalah menara pertama saya dari 12 menara di tanah Jawa. Pendakian ini, bolehlah dibilang pendakian “waras” dan serius pertama yang bikin saya ketagihan naik gunung. Hepinya, sebelum, selama, dan sesudah mendaki, masih kerasaaa ampe sekarang. Meskipun kayaknya hampir setiap kali naik gunung saya selalu-selalu sangat bahagia yang gak pernah bisa (dan gak perlu) saya sembunyiin.

See you later, Menara tanah sunda, mungkin via Linggarjati suatu saat nanti :P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s