Menyelami Pola Pikir Anak Didik

Salah satu hal paling sulit saat mengajar buat saya, adalah memahami pola pikir anak didik saya. Mungkin, dari dulu bawaan saya emang cenderung egois kali ya. Selalu menganggap cara yang saya percaya, adalah yang terbaik. Sampe seringkali saya gak mau pakai cara yang diajarkan guru. Bukan gak mau, tapi mungkin gak mengerti. Lebih tepatnya gak mau mengerti, atau terlalu malas untuk mencoba memahami.

Sekarang, saat saya mengajar, hal ini terasa jelas sekali. Mudah sekali sebenarnya, untuk mengatakan cara yang mereka lakukan salah, lalu mengajarkan versi yang kita anggap benar. Hmm, gak salah sih mungkin mengajar dengan cara seperti itu. Tapi, alangkah lebih bijaknya saat seorang guru, bila menghargai dan mencoba memahami pola pikir anak didiknya. Dan ini yang sulit, terutama bagi saya. Padahal jika saya bisa (dan mau tentunya) mendengarkan lebih baik, akan jauh lebih asyik jika saya bisa memahami pola pikir mereka untuk kemudian mengkoreksi, ataupun menjelaskan suatu masalah dari sudut pandang yang sama dengan mereka. Saya lebih mudah mengajarkan suatu masalah, dan bagi murid, tentunya mereka tinggal mengembangkan pemahaman dari sudut pandang yang sudah mereka lihat. Asyik kan rasanya, bila saat kita mengemukakan penyelesaian suatu masalah, lalu guru kita menjawab seperti ini,

“Iya bener tuh kayak gitu, ketinggalan masukin ini ke situ aja (oke jangan ngeres Senyum dengan lidah terjulur)”
”Sip bener kayak gitu, lanjutin lagi tuh kerjainnya, tapi jangan lupa kalo ngebandingin ini gak boleh kayak gitu. …..”
”Bisa juga pake cara itu, tapi itu kalo masalahnya gitu ya, mungkin kalo masalahnya kayak gini, penyelesaian kayak gitu bakalan lama ngerjainnya”

Bayangin kalo semua guru sesuportif itu sama muridnya, minimal mau mendengar dengan baik. Murid juga bakalan lebih semangat dan gak takut buat ngemukain pendapat. Bahkan guru juga bisa belajar dari muridnya, secara mereka sebenernya (insya Allah) anak-anak yang penuh dengan kreativitas. Penuh dengan ide-ide, bahkan penyelesaian masalah yang mereka tawarkan bisa jadi lebih baik. Karena mengajar itu belajar. Karena mengajar itu mendengar. Oke, saya akan belajar untuk mendengar dan memahami, mulai dari saat ini Senyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s