Bukan Hipokrisi dan Slogan-slogan

Saya baru saja menengok isi buku Tepian Tanah Air, 92 Pulau Terluar Indonesia (Indonesia Bagian Barat). Buku ini merupakan dokumentasi kumpulan catatan perjalanan dan foto dari Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang dilakukan Wanadri, kadang terkenal juga dengan sebutan ekspedisi pulau terluar.

Jujur, ada sebuah perasaan yang muncul saat melihat kumpulan gambar lautan dan langit yang biru, budaya-budaya unik yang khas, flora-fauna liar serta catatan sejarah yang menjejakan kakinya di garis batas terluar Indonesia. Segala hal yang merupakan kekayaan sebenarnya yang kita punya. Tidak perlu bicara emas kuning, emas putih, atau emas hitam, tanpa semua itu pun kita kaya raya.

Dan, saya jatuh cinta (lagi). Pada negeri ini, tanah dimana saya lahir. Disaat orang dengan ringan berkata, malu menjadi orang Indonesia. Perasaan ini muncul kembali, saat melihat Indonesia dengan sejuta pesonanya. Timbul perasaan ingin menjaga. Ingin menjaga kekayaan ini seperti apa adanya. Sehingga manusia-manusia yang menghuninya mampu selalu tersenyum selalu seperti di foto-foto itu, karena selalu merasa kaya raya.

Benar apa yang Soe Hok Gie bilang di hampir seabad silam, dan baru sekarang kerasa banget nyatanya di hati saya.

Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang yang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia  bersama rakyat dari dekat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s