0

Renungan Hati

Berbicara pada Cermin: “God Knows Who Belong in Your Life and Who Doesn’t. Trust and Let Go… (@Illuminati)

Gak perlu nangis terlalu lama untuk satu perpisahan yg menyebalkan. Kemungkinan memang salah kamu, atau mungkin juga, Dia ingin nunjukkin, siapa yang benar-benar layak ada di hidup kamu. Percaya, dan biarkan “mereka” berlalu.

Coba tengok orang-orang yang kamu temui di sepanjang jalan, yang tersenyum, manis, selalu. Orang-orang yang datang, tanpa kamu undang. Orang-orang yang membantu, sebelum kamu minta. Orang-orang yang bertahan, tanpa perlu kamu memohon.

Kalo bisa, gak perlu kamu hitung-hitung orang yang menyebalkan itu. Gak usah repot dicaci, karena hati kamu terlalu sempit kalo cuman dipake nampung benci.

Tinggalkan “mereka” di belakang, cukup tengok spion kebelakang sesekali, buat pelajaran. Lalu coba hitung lagi, orang-orang yang tersenyum itu, masa kini dan masa depan kamu. Kamu lalu malu sendiri, betapa banyak nikmat Tuhan yang kamu dustakan.

0

Novel: Tahta Mahameru

Tahta Mahameru? Siapa yang bertahta di Mahameru? Tuhankah, atau Para Dewa? Pertanyaan berikut adalah satu dari tiga pertanyaan yang ditanyakan oleh Ikhsan kepada Faras. Tiga pertanyaan sulit yang tidak mampu Faras jawab.
Faras, gadis sederhana dari desa Ranu Pane, dan monster Ikhsan, pendaki sinis nan menyebalkan asal Jakarta. Petualangan dan persahabatan unik dua manusia dengan karakter bertolak belakang inilah yang dituturkan dalam novel Tahta Mahameru.
Faras hobi membaca, yang membuatnya ahli melontarkan sederetan kata-kata sulit penuh makna. Kahlil Gibran, begitu ucapnya biasanya, menyebut nama perangkai kalimat-kalimat indah yang dicatutnya. Sedangkan Ikhsan adalah seorang penjelajah yang kerap kali menghabiskan waktunya untuk membalaskan dendam. Dendam dan setumpuk kebencian pada keluarganya yang memupuk karakter Ikhsan menjadi karakter sinis dan menyebalkan. Perpaduan karakter yang ampuh mengenyahkan orang-orang yang mencoba mendekat, hingga praktis dia tak punya teman. Faras adalah salah satu sosok yang tak bergeming dengan kesinisan Ikhsan.
3 kali Faras bertemu Ikhsan di desa Ranu Pane, kaki gunung Mahameru, titik start bagi para pendaki yang akan melakukan pendakian. Ikhsan datang, sekali membawa kesinisan, sekali membawa luka bakar dan kekalutan, terakhir 3 tahun lalu, Ikhsan datang membawa dendam yang mencapai puncaknya. Segala hal yang ingin diredamnya dalam kemegahan Mahameru.
Dengan ketulusan dan kecerdasannya, Faras mampu menjawab kesinisan dan kekalutan Ikhsan dengan nasihat yang dirangkumnya dalam keindahan jalinan kata Kahlil Gibran.
“Berilah aku telinga, maka aku akan memberimu suara”
”Yang paling dekat dengan hatiku adalah seorang raja yang tidak memiliki singgasana dan seorang miskin yang tidak tahu caranya mengemis.” Kutip Faras suatu ketika, yang membuat Ikhsan tanpa sadar membuka hatinya untuk persahabatan tulus yang Faras tawarkan.
3 tahun terhitung setelah pertemuan terakhir mereka, Ikhsan lalu menghilang. Faras dirundung kegelisahan. Faras takut, Ikhsan yang sendirian, memutuskan untuk lebih serius membalas  dendam. Faras lalu mencari jejak Ikhsan yang menghilang, melalui foto-foto yang Ikhsan kirimkan. Di Borobudur Faras bertemu Mareta, seorang gadis fotografer yang cuek, yang ternyata terikat erat dengan kehidupan penuh dendam Ikhsan. Petualangan Faras dan Mareta pun terurai, mulai dari tumpukan batu mahacipta Syailendra, hingga potongan-potongan kayu perahu pinisi kebanggaan Bugis, di Tanjung Bira, penghujung Celebes.
Di Tanjung Bira, jejak Ikhsan yang berhasil Faras kumpulkan, menciptakan sosok baru Ikhsan yang jauh berbeda dari yang Faras kenal. Membawa kelegaan sekaligus membuncahnya sejuta pertanyaan dalam diri Faras akan perubahan yang terjadi pada Ikhsan.
Akhirnya, ketiga tokoh, berkumpul kembali titik mulai kisah ini berasal, Ranu Pane, kaki Mahameru. Mereka lalu mendaki Mahameru untuk mengurai dendam sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan Ikhsan yang dulu tak pernah bisa Faras jawab.
Novel ini terurai dalam alur cerita flashback yang lembar demi lembar kisahnya ini bak novel misteri yang menawarkan sederet pertanyaan samar. Tentang Ikhsan dan kisah bak opera sabun dalam keluarganya. Tentang Mareta, gadis fotografer cuek, teman seperjalanan Faras yang rupanya terikat erat dengan kehidupan penuh dendam Ikhsan.
Pola penceritaan yang maju mundur diceritakan dengan berbagai setting tempat, Ranu Pane, Borobudur, Jakarta dan Tanjung Bira. Pergeseran waktu dan tempat secara bolak-balik ini mampu membuat pembaca penasaran mengenai jalan ceritanya. Azzura Dayana seolah menyerakkan puzzle untuk dirangkai para pembaca. Pembaca harus cukup jeli dalam melihat latar tempat dan waktu cerita untuk dapat menebak kisahnya. Gaya cerita yang dituturkan melalui sudut pandang Faras, Mareta dan Ikhsan secara berganti-ganti, memungkinkan pembaca untuk dapat menyelami pemikiran-pemikiran tokohnya secara lebih dalam. Azzura Dayana cukup pintar membuat plot yang membuat pembaca ingin menghabiskan novel ini dalam sekali duduk saja.
Gambaran sosok Faras, mewakili kesederhaan dan ketulusan hati seorang gadis desa yang berpadu dengan kecerdasan yang didapat dari kecintaannya terhadap buku. Ketulusan dan kecerdasan Faras yang akhirnya meluluhkan Ikhsan sehingga mau membuka pintu persahabatan Seperti yang dituturkan dalam coretan kata-kata milik Ikhsan…kau serupa perdu, tapi herannya, padamu aku tetap menggantung. Rangkaian kalimat indah Kahlil Gibran melalui sosok Faras, akan mampu menumbuhkan besar rasa penasaran bagi para pembaca untuk membaca kembali karya-karya Kahlil Gibran.
Sedangkan sosok Ikhsan mungkin akan menyentil karakter introvert para pendaki, yang biasanya membawa setumpuk keresahan yang tidak bisa diungkapkan, untuk dicecerkan dalam setiap pendakian. Pembaca akan dibawa turut serta dalam tumpukkan dendam Ikhsan akibat konflik-konflik keluarga serta kehilangan satu-satunya orang yang dicintainya, hingga akhirnya mampu bertransformasi setelah melalui berbagai peristiwa dalam hidupnya.
Sosok Mareta sendiri mewakili gadis kota metropolitan yang berkecukupan, namun klasiknya, Mareta tumbuh menjadi gadis pembangkang akibat huru-hara yang kerap terjadi antara orang tuanya. Sayangnya penokohan tokoh Mareta disini kurang kuat, sehingga tenggelam oleh dua tokoh utama. Padahal banyak hal yang bisa digali, terutama sikap Mareta sebagai gadis yang seharusnya bisa cukup kritis terhadap konflik-konflik yang diakibatkan oleh orangtuanya. Selain ketiga tokoh tersebut, masih ada sosok Fikri dan Yusuf, dua sosok protagonist yang dalam cerita ini sangat mempengaruhi kehidupan Ikhsan sebagai sosok yang sempurna baik sebagai sahabat maupun panutan.
Serupa dengan novel best seller, 5 cm, kedua novel ini sama-sama menceritakan persahabatan dilatari dengan penggambaran indah pendakian Mahameru. Gambaran indah tentang Mahameru dijamin akan mengobarkan penasaran dan memecut kerinduan bagi para pecinta tempat tinggi untuk menjejakkan kaki disana. Kedua novel ini juga dibumbui dengan kata-kata puitis baik dari para pujangga ataupun lirik lagu.
Yang membuat novel Mahameru berbeda ialah gaya penceritaan yang seolah penuh misteri dan muatan-muatan islami yang dimasukkan tanpa kesan menggurui. Hadits dan ayat Al-Qur’an juga  disisipkan secara cerdas tanpa menjadikan novel ini terkesan seperti novel dakwah islami.
Tahta Mahameru mampu menunjukkan kualitasnya sebagai pemenang kedua sayembara novel Republika 2011. Alur cerita yang membuat pembaca penasaran disertai dengan latar belakang yang memukau. Gambaran mengenai adat Bugis beserta kehebatannya dalam membuat perahu tangguh ternama, Pinisi, dan tentunya gambaran megah pendakian Mahameru. Gaya bertutur Azzura Dayana seolah mampu menghadirkan dinginnya danau Ranu Kumbolo saat Ikhsan menceburkan diri di dalamnya. Novel ini juga bertaburkan kalimat-kalimat indah baik kutipan maupun buah pikir Azzura Dayana sendiri yang penuh makna.
Kekurangan pada novel ini adalah konflik yang terjadi pada keluarga Ikhsan dan Mareta terkesan sangat klise, seperti pada sinetron, dengan klimaks yang terasa kurang menggigit dibandingkan dengan banyaknya pertanyaan yang timbul di bab-bab awal buku.
Secara keseluruhan, novel ini merupakan salah satu novel koleksi Perpustakaan Salman yang layak pinjam. Bersiaplah mendapat sebersit arti tentang hati, yang merasa sendiri dan yang senantiasa memberi. Juga secuil arti tentang ketulusan sebuah persahabatan, yang kerapkali kita abaikan.

0

Senja

Mas seno menginginkan sebuah negeri Senja. Dimana matahari tak pernah benar-benar terbenam, dan senja selalu abadi, senja yang keemasan. Mas seno menginginkan negeri senja dimana orang-orangnya selalu  diliputi kebahagiaan, kala menikmati langit yang selalu kemerahan.

Saya, cukuplah meminta negeri di atas awan. Dimana senja, tanpa harus selalu keemasan, terlihat cantik bersama cakrawala dan tumpukan awan.
Senja disini tak perlu abadi, karena setelahnya, malam akan tampak luar biasa, dengan tumpukan bintang menyajikan sendratari yang menghibur semesta sejak berjuta tahun cahaya silam.
Senja di negeri ini akan selalu dirayakan pengembara-pengembara yang memuja kebebasan. Sebelum mereka terlelap diatas rumput yang terhampar, dibuai angin yang membelai.
Senja di negeri ini tak membuat mereka melupakan fajar. Fajar yang muncul perlahan, ditunggui para pengelana sembari menggigil kedinginan. Fajar yang di negeri lain seringkali terlupakan, padahal dia selalu indah dan juga kadang keemasan.

Saya benar-benar merindukan negeri di atas awan. Negeri tak berpenghuni karena semua orang hanya singgah sebentar. Negeri sepi yang melewatinya akan merasa kaya raya karena alam yang terbentang tidak pernah terbatasi pagar.
Disana, saya, pemimpi yang terkekang, memuja senja, dan bukan hanya itu.

0

Djokjaaa

Makin lama level kebetahan saya di kota ini semakin gak wajar. Rasa-rasanya, test demi test yang saya ikuti seakan hanya menjadi alasan untuk tetap tinggal di kota ini.

Man saara ala darbi wasala
Siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai ke tujuan

Saya datang kekota ini untuk mengetuk gerbang, bertanya apakah saya boleh melewati itu. Gerbang-gerbang itu terbuka, bahkan sebagian mempersilahkan masuk sebelum saya ketuk. Saat melihat gerbang-gerbang itu terbuka saya diam, dan tak ingin berjalan. Saya selalu meyakini, bahwa akan selalu ada gerbang-gerbang indah yang mempersilahkan saya masuk. Hal yang selalu saya pertanyakan, akankah saya menikmati perjalanan ini? Akankah saya sampai ke tujuan?
Gerbang-gerbang itu semakin terbuka, keraguan semakin kuat menyerang.

Man jadda wa jadda
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil

Lantas? Bagaimana bisa bersungguh-sungguh bila kita tak yakin ingin? Bagaimana bisa berhasil bila tidak bersungguh-sungguh? Bila dari awal tidak mengejar keberhasilan, untuk apa perjalanan ini diteruskan?

Setengah dari perjalanan adalah berpikir. Dan yogya tidak memiliki angkot. Dan bila saya bertanya jalur bus, saya akan diantar, saya akan merepotkan, lagi, dan lagi. Sebagai orang yang mengaku suka berjalan kaki, saya menikmati ini sebagai alasan untuk bersantai di jalan ditemani alat navigasi. Imajinasi saya bergulir seiring saya melangkahkan kaki.

Bagaimana bila saya tinggal saja di kota ini? Cuacanya tidak terlalu panas, dan tidak cukup dingin untuk membuat saya malas mandi. Masjidnya sederhana, namun terawat dan bersih. Harga makanan kadang tidak masuk akal karena bahkan kamu bisa dapat nasi ayam penyet enak seharga 6000 ribu rupiah. Banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Banyak bule lumayan bisalah buat tepe-tepe #plakkk. Mungkin disini saya bisa jualan cilok bandung beserta berbagai variasi aci yang seperti cipuk dan cilung. Karena yang berbau-bau bandung sepertinya selalu laku. Selama saya tidak jualan mojang bandung saja.

Haha, saya akui. Kali ini saya galau tingkat dewa. Galau yang tidak jelas ujung pangkalnya.

0

Bila Beberapa Orang Nekad Bertemu

Nov’13

(Markirin maung (tiger), di Spbu. Masih 2 jam lagi ketujuan. Hujan makin gede)

X: Gede nih ujannya, bakal awet
Y: He eh

X: Jadi gimana?
Y: Shalat aja dulu deh
———————-
X: Gimana nih?
Y: (Ngejawab takut-takut) Hatiku sih maunya lanjut

X: Jadi ngikutin kata hati atau kata alam?

(Hening selama beberapa saat, hujan makin deras)

Y: Kamu maunya gimana?
X: Ya aku maunya lanjut

Y: Ya aku jugaa

(Spontan berdiri ambil helm. Nekad yang terbayar lunas oleh keindahan pantai Jogan, Gunungkidul)

Jan’11

Setengah perjalanan. Matahari mulai menghilang.
X: Udah maghrib nih
Y: Iyaa
Z: Berhenti kita?

X: Iya kayaknya, udah gelap
Y: Hmmm
Z: Bikin tenda disini ya kita

(Mengeluarkan makanan tanpa ada satupun yang berinisiatif mengeluarkan tenda)

X: Rame banget ya yang ngecamp disini
Y: Iya asa pengen lanjut
Z: Iya… pengen lanjut

(Dan akhirnya tiga orang gadis manis melanjutkan perjalanan di kegelapan. Gak ada rombongan lain lagi… duh. Terbayar lunas oleh pemandangan bintang-bintang yang terlihat sangat dekat, dan puncak Pangrango, akhirnya)

Sempurnalah cerita sebuah perjalanan, bila ditemani orang-orang nekad.

0

Nanti

Kadang ada rasa yang tak mampu terungkapkan oleh bahasa
Bila mampu pun, sekarang bukan saatnya

Kadang rasa itu sangat ingin bisa tersampaikan oleh indera
Bisa pun, sekarang bukan waktunya

Sabar saja sebentar
Karena janji Tuhan adalah benar
Karena Tuhan tidak pernah ingkar

Mungkin setahun, tiga atau lima
Atau setelah bumi terbelah dua

Percayalah semua terjadi pada masanya
Semua indah pada waktunya
Bila kamu percaya

0

Mimpi

01.29 pm, 16’11’13

Didepan saya ada kolam renang tenang, ada juga buku Rantau Satu Menara punya Laras.
Sebelum saya lupa dan mumpung suasana sangat mendukung, saya ingin bercerita tentang mimpi duniawi terbesar saya. Berkeluarga dan berbahagia.
Saya tidak pernah membayangkan mobil mewah dan rumah megah. Tidak. Hanya keluarga bahagia saja. Entah kaya raya, entah sederhana. Kerajaan kecil, seorang raja, pangeran-pangeran dan putri-putri kecilnya. Di singgasana ratu saya bertahta.
Mungkin menjelang isya, saya bisa bercerita pada pangeran saya tentang titik yang sangat terang dilangit malam. Itu bukan bintang sayangku, bukan juga lampu pemancar. Itu Venus. Planet terdekat dari bumi kita. Disaat yang sama, mungkin raja sederhana itu sedang bermain bersama putrinya, berpura-pura menjadi sapi.
Its not too much, isnt it?
Namun, saya belum siap untuk menjemput mimpi itu, belum. Masih ada gunung-gunung yang ingin saya daki. Saya ingin memakai seragam biru itu, menjelajah titik paling dingin dan paling panas dipenjuru dunia. Masih ada orangtua dimana bakti harus saya labuhkan, sebelum menambatkan bakti pada seorang pemuda.
Dan yang terpenting dari semuanya, saya masih butuh banyak waktu untuk memantaskan diri. Sehingga kelak pada masanya saya bertahta, saya ratu yang diselebrasi, bukan di toleransi oleh kerajaaannya.