0

Curhat Day2

Hari ini saya agak-agak stress *okey, agak lebay sih*. Tadi pagi denger tetangga lagi marah-marah sama suami nya. Beragam kata bermunculan, mulai dari aing-sia sampe berbagai kata makian yang males rasanya saya tuliskan.

Tadi siang, saya dikunjungi sama saudara yang membawa anak kecil. Bocah itu nggak bandel-bandel amat sih. Hanya anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, sampe-sampe ngoprek segala macam benda yang mungkin terlihat menarik di mata dia. Masalah bagi saya adalah ketika sang ibu mulai marah-marah dan bentak-bentak sang anak. Kuping saya yang sensitif ini pun harus mendengar caci maki lagi.

Fyuh.

Rasanya sedih aja, membayangkan seorang suami, dalam usia sepuh, dimaki-maki oleh istrinya sendiri. Atau anak kecil yang bingung, ketika diinstruksikan untuk diam oleh sang ibu, hal yang hampir mustahil untuk anak seaktif itu. Akhirnya memang diam sih, setelah dibentak dan dimaki.

Dan saya, merasa lemah aja gitu. Okelah bapak tetangga mungkin sudah cukup dewasa untuk membela diri. Tapi anak sekecil itu? Trus aku kudu piye, huhuhu. Mau ngingetin gak berani, secara umur ibunya jauuh diatas umur saya. Tapi disisi lain gak tega. Huhu…

To be continued…

#odopfo99days #day2

Advertisements
0

Bacalah!

Hari ini hari pertama tantangan One Day One Post for 99 Day, dan… saya hampir kehabisan ide mau nulis apa. Terakhir kali saya merasa agak-agak sering mengisi blog adalah tahun 2013, deadline saya kuliah di kampus. Salah satu alasan mengapa di tahun itu saya agak lebih produktif adalah karena saya galau. Dan, ya, galau is power, terutama saat kita bicara tentang tulisan yang berbau curhat, renungan atau bahkan puisi. Entah kenapa ya, nampaknya kesedihan seringkali lebih dahsyat saat tertuang dalam tulisan, dibanding emosi lainnya. Coba cek lagi lagu-lagu favorit sepanjang masa, lagu sedih nan melankolis pasti mendominasi daftarnya.

Nah, sekarang saya sudah menikah. Tingkat galau saya berada pada level biasa-biasa saja, apalagi jika dibandingkan sama jomblo-jomblo ababil itu. Mana mungkin sempat galau, jika mau galau sebentar saja tuan muda saya yang baru berusia sebulan itu sudah meraung memanggil-manggil.

Lalu, kalau sudah tidak galau, apalagi yang bisa menjadi bahan tulisan? Pernah salah seorang teman saya bertanya, Mi, kok sekarang bisa nulis kayak gitu (maksudnya sih jika dibandingkan jaman ababil semasa SMA). Waktu itu saya menjawab, membaca. Disaat saya kebingungan mau menulis apa, saya teringat kata-kata saya sendiri. Jika mau menulis, membaca!

Membaca tentu bisa apa saja. Entah membaca gejala-gejala alam, atau juga membaca tulisan-tulisan yang beredar dimana-dimana. Jadi masih bingung nulis apa? Ayo, membaca dulu… 🙂

#odopfor99days #day1