0

Some people feels the rain. Other just get wet.

Some people feels the rain. Other just get wet.

Bob Marley

Sepertinya sudah lama saya tidak merasai hujan. Saya kini merasakan basah. Basah yang meenggankan diri untuk keluar kosan, menghentikan perjalanan saat pendakian, dan membuat pergiliran baju semakin sulit dilakukan.

Dulu, sewaktu basah bukan sesuatu yang mencekam. Saya merasakan hujan.

Kebebasan, ketika hujan turun di siang hari saat saya pulang sekolah. Bebas untuk hujan-hujanan, hal yang biasanya ibu saya haramkan.

Kehangatan, saat hujan turun dan saya rayakan dengan bergelung di sofa samping jendela. Ditemani susu cokelat dan selimut hangat.

Hujan besar kadang membuat jalan depan rumah saya menganak sungai. Aliran air bagaikan susu cokelat yang ditumpahkan besar-besaran. Apa yang lebih indah dari suatu sore dengan sungai susu cokelat yang mengalir depan rumah? Bersama segala sesuatu nya yang tampak basah. Pepohonan basah, rumput basah, jalanan basah, rumah tetangga basah. Di aliran sungai lalu berbagai bentuk kapal-kapalan kertas di percaya pembuatnya untuk mengarungi lautan, mencari tempat bermuara.

Saya pernah begitu merasai hujan, dulu. Sekarang, saya hanya takut basah.

Advertisements
0

Renungan Hati

Berbicara pada Cermin: “God Knows Who Belong in Your Life and Who Doesn’t. Trust and Let Go… (@Illuminati)

Gak perlu nangis terlalu lama untuk satu perpisahan yg menyebalkan. Kemungkinan memang salah kamu, atau mungkin juga, Dia ingin nunjukkin, siapa yang benar-benar layak ada di hidup kamu. Percaya, dan biarkan “mereka” berlalu.

Coba tengok orang-orang yang kamu temui di sepanjang jalan, yang tersenyum, manis, selalu. Orang-orang yang datang, tanpa kamu undang. Orang-orang yang membantu, sebelum kamu minta. Orang-orang yang bertahan, tanpa perlu kamu memohon.

Kalo bisa, gak perlu kamu hitung-hitung orang yang menyebalkan itu. Gak usah repot dicaci, karena hati kamu terlalu sempit kalo cuman dipake nampung benci.

Tinggalkan “mereka” di belakang, cukup tengok spion kebelakang sesekali, buat pelajaran. Lalu coba hitung lagi, orang-orang yang tersenyum itu, masa kini dan masa depan kamu. Kamu lalu malu sendiri, betapa banyak nikmat Tuhan yang kamu dustakan.

0

Nanti

Kadang ada rasa yang tak mampu terungkapkan oleh bahasa
Bila mampu pun, sekarang bukan saatnya

Kadang rasa itu sangat ingin bisa tersampaikan oleh indera
Bisa pun, sekarang bukan waktunya

Sabar saja sebentar
Karena janji Tuhan adalah benar
Karena Tuhan tidak pernah ingkar

Mungkin setahun, tiga atau lima
Atau setelah bumi terbelah dua

Percayalah semua terjadi pada masanya
Semua indah pada waktunya
Bila kamu percaya

0

Mimpi

01.29 pm, 16’11’13

Didepan saya ada kolam renang tenang, ada juga buku Rantau Satu Menara punya Laras.
Sebelum saya lupa dan mumpung suasana sangat mendukung, saya ingin bercerita tentang mimpi duniawi terbesar saya. Berkeluarga dan berbahagia.
Saya tidak pernah membayangkan mobil mewah dan rumah megah. Tidak. Hanya keluarga bahagia saja. Entah kaya raya, entah sederhana. Kerajaan kecil, seorang raja, pangeran-pangeran dan putri-putri kecilnya. Di singgasana ratu saya bertahta.
Mungkin menjelang isya, saya bisa bercerita pada pangeran saya tentang titik yang sangat terang dilangit malam. Itu bukan bintang sayangku, bukan juga lampu pemancar. Itu Venus. Planet terdekat dari bumi kita. Disaat yang sama, mungkin raja sederhana itu sedang bermain bersama putrinya, berpura-pura menjadi sapi.
Its not too much, isnt it?
Namun, saya belum siap untuk menjemput mimpi itu, belum. Masih ada gunung-gunung yang ingin saya daki. Saya ingin memakai seragam biru itu, menjelajah titik paling dingin dan paling panas dipenjuru dunia. Masih ada orangtua dimana bakti harus saya labuhkan, sebelum menambatkan bakti pada seorang pemuda.
Dan yang terpenting dari semuanya, saya masih butuh banyak waktu untuk memantaskan diri. Sehingga kelak pada masanya saya bertahta, saya ratu yang diselebrasi, bukan di toleransi oleh kerajaaannya.

0

mimpi, lain kali

bilang apa, rindu?
ragu.
mau bertemu?
tidak mau.
#
jujur.
berpikir.
sedikitnya ingin tahu.
#
membawa ke tempat dimana bintang-bintang mendekat. bisa?
menepi ke jurang-jurang ngeri. bisa?
atau berteriak di pantai, yang ombak nya sering berteriak pula.
lalu mengayuh menebas udara, sampai pipi kelu.
mungkin memelukkan, dengan tanah hangat.
dengan sejuta mimpi, masa muda.
serta sebungkus indomie, campur kuman bakteri.
dan sosis panggang belum matang, gosong di tepi.
#
mimpi. membuat ingin berlari.
tapi biarkan. ego. logika. nurani.
bertarung sampai keki.
selamat logika. menang kembali.
mengantar pada realisasi,
dari, mimpi?
#
ayo? hanya semalam, atau dua. selambatnya tiga.
sudah lama. ingin bertemu.
bilang. lain kali.
(dalam hati) maaf, mungkin bukan ingin ini.
***

akhir minggu, kedua, bulan 10, tahun kelinci