0

Dokter Tuh Ya…. Ckckck

Saya dulu sempat mikir. Dokter tuh yaa, harusnya turut mencerdaskan bangsa dengan mengedukasi pasien tentang gaya hidup sehat  buat menyembuhkan penyakit yang sedang di deritanya. Bukan sekedar ngasih obat-obat mahal, trus udah aja.  Ckckck.

Lalu tetiba saya inget, emang orang Indonesia mau gitu dateng ke dokter untuk  dikasih saran-saran tentang gaya hidup sehat doang? Semisal dia pilek, trus dokternya bilang gini, “Adik banyak minum air putih aja, makan buah-buahan yang banyak vitamin C nya, trus kalo malem ditutup hidungnya, badannya dibawa lari (okeh yang ini gak jelas asal-usulnya), gak usah minum obat ya.” Seberapa  banyak pasien disini yang rela bawa pulang saran, bukannya  setumpuk obat  dari dokternya? Ah gak yakin guweeeeh.

Saya dulu sempet mikir. Dokter tuh yaa, nanganin pasien pakai obat bejibun, antibiotik suntik lah, antibiotik dobel lah, apa lah yang saya gak ngerti namanya. Emang tuh obat gak bakal jadi racun.

Trus saya inget, saya tinggal di Indonesia, dimana ibu-ibu kalo ngegosip, “Ihhhh…. ke dokter A aja, bagus dokternya, cepet sembuhnya”. Pokoknya kalo pusing, mesti cepet ilang pusingna. Kalo demam, mesti cepet turun panasnya. Kalo mencret kudu cepet mampetnya.
Eaaa. Haishhhh.

Jadi yang masih mau salahin dokternya?

Advertisements
0

Renungan Hati

Berbicara pada Cermin: “God Knows Who Belong in Your Life and Who Doesn’t. Trust and Let Go… (@Illuminati)

Gak perlu nangis terlalu lama untuk satu perpisahan yg menyebalkan. Kemungkinan memang salah kamu, atau mungkin juga, Dia ingin nunjukkin, siapa yang benar-benar layak ada di hidup kamu. Percaya, dan biarkan “mereka” berlalu.

Coba tengok orang-orang yang kamu temui di sepanjang jalan, yang tersenyum, manis, selalu. Orang-orang yang datang, tanpa kamu undang. Orang-orang yang membantu, sebelum kamu minta. Orang-orang yang bertahan, tanpa perlu kamu memohon.

Kalo bisa, gak perlu kamu hitung-hitung orang yang menyebalkan itu. Gak usah repot dicaci, karena hati kamu terlalu sempit kalo cuman dipake nampung benci.

Tinggalkan “mereka” di belakang, cukup tengok spion kebelakang sesekali, buat pelajaran. Lalu coba hitung lagi, orang-orang yang tersenyum itu, masa kini dan masa depan kamu. Kamu lalu malu sendiri, betapa banyak nikmat Tuhan yang kamu dustakan.

0

Bukan Hipokrisi dan Slogan-slogan

Saya baru saja menengok isi buku Tepian Tanah Air, 92 Pulau Terluar Indonesia (Indonesia Bagian Barat). Buku ini merupakan dokumentasi kumpulan catatan perjalanan dan foto dari Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang dilakukan Wanadri, kadang terkenal juga dengan sebutan ekspedisi pulau terluar.
Continue reading

0

Ilusi Iklan Rokok: Cowok-cowok Macho

Bertahun-tahun, pria-pria malang di seantero negeri ditipu ilusi iklan rokok. Ngerokok = macho. Merokok menyebabkan impotensi. Merokok menyebabkan macho. Impotensi = macho?

Saya heran setengah mati, sumpah, saat ngelewatin sebuah banner gede, bergambar cowok macho berotot berbody fit dengan topi pet, kuas di tangan dan lukisan di depannya. Pelukis katanya. Saya gak tahu apa maksudnya si rokok itu bahwa dengan merokok, para cowok akan mahir melukis dan berotot gede.

Oke, banyak memang pelukis merokok. Pelukis hebat, ya! Begini nih gambarnya. Kenapa gak mereka aja yang dijadiin bintang poster? Di bawah ada contoh Affandi dan S Sudjojono yang juga sedang menghisap cerutu.
Affandi Continue reading